Jasa Besar Ki Hajar Dewantara

Mengenang Jasa Besar Ki Hajar Dewantara

Jasa Besar Ki Hajar Dewantara – Karena kegigihannya memperjuangkan kemerdekaan dan pendidikan, Ki Hajar Dewantara dianugerahi banyak gelar. Tanggal kelahirannya 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 1959. Selain sebagai Bapak Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara juga ditetapkan Bapak Pendidikan Nasional, Perintis Kemerdekaan Indonesia, dan Pahlawan Nasional.

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat mengganti gelar kebangsawanannya pada usia 40 tahun, menurut tahun Caka, dengan nama yang merakyat Ki Hajar Dewantara. Lahir pada tahun 1889, ia merupakan keturunan Pakualaman, cucu Paku Alam III (Gusti Hadipati Haryo Sastraningrat), putra Kanjeng Pangeran Haryo Soeryaningrat. Perguruan Tamansiswa lahir 3 Juli 1922, awalnya menggunakan nama National Onderwijs Institut Taman Siswa. Setelah Indonesia merdeka, nama yang resmi dipakai Perguruan Kebangsaan Taman Siswa, sebuah paguron, atau tempat belajar hidup, belakangan ditulis Perguruan Tamansiswa.

Kalasan di bawah pimpinan Kiai Sulaiman Abdurrahman, tujuh tahun di Europeesche Lagere School, empat tahun di sekolah guru (kweekschool), Soewardi masuk kemudian mundur dari Sekolah Kedokteran School ter voor Opleiding van Indische Art (STOVIA) di Batavia tahun 1910.

Awal Perjuangan

Hardiknas Awal perjuangan politik Ki Hajar muda, yang masih bernama Soewardi, dimulai lewat bidang jurnalistik. Mula-mula bekerja di harian Sedio Tomo di Yogyakarta dan harian Medden Java di Semarang, terakhir di harian De Expres yang didirikan Douwes Dekker di Bandung. Ia juga mengasuh majalah Het Tijdschrift di Bandung di bawah pimpinan Douwes Dekker. Kedua media terakhir tercatat ikut melicinkan jalan kelahiran Indische Partij (IP). Partai IP bertujuan Indonesia merdeka, karena itu termasuk partai revolusioner-nasionalistis. Sebagai pemimpin IP, Soewardi memprotes rencana pemerintah penjajah Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Kerajaan Negeri Belanda dari penjajahan Prancis.

Perayaan itu tidak patut dan tidak pantas, sebab selain mewajibkan rakyat jajahan merayakannya, juga mengharuskan rakyat membiayai perayaan. Soewardi mengingatkan, selama Gubernur Jenderal jadi wali negeri, Nederland tidak akan memberikan kemerdekaan, padahal maksud perayaan itu mengajarkan bahwa tiap orang wajib memperingati hari kemerdekaannya. Soewardi membuat artikel yang berisi kritik-kritik terbuka terhadap Belanda yang disampaikan secara terus terang dan tajam. Akibat tulisan itu, ketiga pemimpin IP ditangkap dan ditahan.

Pada tanggal 18 Agustus 1913, keluar surat penahanan dan hukuman pembuangan (interniran) berdasar hak luar biasa Gubernur Jenderal Idenburg (exoritante rechten), hak yang diberikan kepada Gubernur Jenderal sebagai hakim tunggal untuk menentukan apakah ketertiban dan ketenteraman umum sudah terancam. Soewardi dibuang ke Bangka, Tjipto ke Banda Neira, dan Douwes Dekker ke Kupang. Dalam surat disertakan keterangan mereka bebas untuk keluar dari Hindia Belanda. Ketiganya kemudian meninggalkan Hindia Belanda ke Nederland tanggal 6 September 1913. Soewardi menolak tawaran van Deventer agar tetap tinggal di Bangka sambal mengajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar Belanda di Bangka.

Pelajari Pendidikan dan Pengajaran

Senyampang kegiatannya di bidang jurnalistik dan politik, di Nederland Soewardi mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran, hingga berhasil memperoleh Europeesche Akte. Itulah yang mempengaruhi dan memperkaya berdirinya perguruan Tamansiswa. Setidaknya ada empat pemikir dan pelopor aliran pendidikan baru yang berpengaruh besar terhadap Soewardi, yakni Friedrich Frobel, Maria Montessori, Kerschensteiner, dan Rabindranath Tagore. Dari antara empat itu Soewardi sangat terkesan dan lebih terpengaruh dengan gagasan Frobel, Montessori, dan Tagore. Selain kepada para pemikir dan pelaksana aliran dan sistem di Eropa, Ki Hadjar juga menimba ilmu dari pemikir-pemikir Asia.

Salah satu di antaranya, penyair dan ahli pendidikan dari India Rabindanath Tagore. Bersama Montessori, Ki Hadjar menempatkan Tagore sebagai pendobrak dunia pendidikan lama dan pembangun aliran baru. Aliran yang mereka bawa sesuai dengan aliran Tamansiswa yang dipungut dari adat pendidikan yang masih hidup dalam masyarakat, yakni aliran kultural nasional. Pada tanggal 5 September 1919 Soewardi kembali ke Hindia Belanda bersama keluarganya-dia sebut kembali ke Hindia Belanda berarti kembali ke medan perjuangan.

Kelahiran Tamansiswa

Hari kelahiran Perguruan Tamansiswa tanggal 3 Juli 1922 ditandai dengan candrasengkala Lawan Sastra Ngesti Mulya, atau angka tahun 1852 Saka atau 1922 Masehi. Untuk mengikat hubungan Tamansiswa dengan cabang-cabangnya di tempat lain, sejak Oktober 1923 ditambahkan keterangan Hoofdzetel Yogyakarta artinya berpusat di Yogyakarta.

Negara dan Rakyat Indonesia menempatkan Ki Hadjar Dewantara sebagai ahli pendidikan di Indonesia. Bung Karno dalam sambutannya saat berkunjung ke Tamansiswa, tanggal 1 Februari 1955, menyatakan “Kalau dulu tidak ada orang yang bernama Soewardi Soeryaningrat dan kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia niscaya tidak akan seperti yang kita alami.”

Lewat Perguruan Tamansiswa Ki Hadjar Dewantara berusaha memadukan pengetahuannya tentang pendidikan gaya Eropa yang modern dengan kebudayaan tradisional Jawa. Ia berusaha membangkitkan kesadaran golongan bumiputera untuk merdeka melalui pendidikan yang humanisnasionalistis, bersifat antipenjajahan. Ki Hadjar telah meletakkan dasar-dasar pendidikan bangsa untuk bertransformasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendidikan yang dikembangkan sejalan dengan kebutuhan dasar manusia.

Ki Hadjar menekankan bahwa pendidikan itu bukan hanya untuk mencerdaskan otak, tetapi juga harus membuat orang punya keinginan untuk bermartabat, berbuat lebih bagi masyarakat, bangsa, dan dunia. Pendidikan yang selalu masuk dalam bentuk perjuangan partai-partai, di tangan Ki Hadjar memperoleh wujud nyata yang sifatnya antipenjajahan. Di tengah zaman penjajahan justru Ki Hadjar mendirikan sekolah untuk mengusir penjajah. Karena itu UNESCO mencatat Ki Hadjar merupakan tokoh pendidikan yang luar biasa sekaligus kontroversial.

Menurut Ki Hadjar penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda tidak ditujukan untuk kepentingan rakyat Indonesia, tetapi untuk kepentingan politik etis Belanda, apalagi untuk kepentingan penjajah dalam bidang politik, dan administrasi. Ki Hadjar Dewantara telah meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional yang berorientasi budaya. Konsep itu ditegaskan dalam Kongres I Tamansiswa tahun 1930. “Pendidikan berdasarkan garis hidup bangsanya (kultural nasional) yang ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bersama-sama dengan bangsa lain untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia”.

Metode Tanpa Paksaan

Dalam Tamansiswa, pendidikan dan pengajaran merupakan upaya sengaja dan terpadu dalam rangka memerdekakan aspek lahiriah dan batiniah manusia. Pendidikan berpusat pada anak, dan anak diberi kesempatan seluas-luasnya sementara pamong (sebutan untuk guru) adalah fasilitator yang menuntun proses pengembangan potensi anak didik agar terarah dan tidak merusak bagi dirinya. Metode pendidikan yang cocok dengan karakter dan budaya Indonesia tidak memakai paksaan.

Peserta didik sebagai subjek yang diberi ruang seluas-luasnya melakukan eksplorasi potensinya dan berekspresi secara kreatif, mandiri dan bertanggung jawab. Sesuai dengan citra dan kultur yang khas Indonesia, maka ada tiga dasar proses pendidikan, yakni pertama, ing ngarso sung tulodo (pendidik berada di depan memberi teladan), kedua ing nadyo mangun karsa (pendidik selalu berada ditengah dan terusmenerus meprakarsai/memotivasi), dan ketiga tut wuri handayani (pendidik selalu mendukung dan mendorong peserta terus maju). Dasar yang ketiga, tut wuri handayani, diberi penegasan sebagai semboyan Tamansiswa. Sistem yang dipakai adalah momong, among, ngemong.

Sistem Trisentra

Mengenai sistem pendidikan, Ki Hadjar menulis Sistem Trisentra. Tiga pusat pendidikan itu adalah alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan terpenting, alam perguruan merupakan yang terutama wajib mengusahakan kecerdasan pikiran (perkembangan intelektual), beserta ilmu pengetahuan (balai wiyata). Alam pemuda adalah pergerakan pemuda yang keberadaannya sudah diakui dan digunakan untuk menyokong pendidikan. Sistem pondok-asrama, seperti dilakukan dalam Shanti Niketan, India, menurut Ki Hadjar paling cocok, sebab guru bersama keluarganya dan para murid hidup bersama-sama di sana. Dalam sistem pondok itulah berlangsung proses pendidikan. Balai wiyata pun menjadi berjiwa, sistem ini disebutnya sistem Tripusat atau Trisentra.